Titip Kisah dari Masa Pandemi

Bismillah.

Bingung ingin memulai tulisan ini dari mana. Sembilan bulan terakhir adalah masa-masa yang berat bagi kita semua. Ya, saya dan kalian tentu tidak menyangka kalau dalam fase hidup ini kita menjadi saksi dari salah satu kejadian bersejarah: Pandemi Covid-19. 

Segar di pikiran saya jika mengingat betapa prihatinnya saya ketika membaca buku-buku catatan masa lalu, tentang letusan gunung yang memusnahkan peradaban masyarakat Pompeii, atau penderitaan satu juta penduduk Kamboja dibawah gerakan pembaharuan Pol Pot. Saya kira semua hal serba kelam itu sudah selesai, abad ini sudah modern, teknologi sudah maju, kita sudah aman. Namun, 2020 membungkam saya dan jutaan manusia lainnya yang mungkin berpikiran sama dengan saya. Mana pernah saya sangka kalau selama 9 bulan dunia bergerak jadi amat lambat, ekonomi terhambat, bandara-bandara sepi, tenaga kesehatan benar-benar taruhan nyawa, nggak pernah sedikit pun terbayang, tapi ini sungguh kejadian. Memang sih, pandemi ini tidak seganas atau semengerikan Ebola, cuma tetap saja, fakta bahwa virus ini belum beredar luas obatnya--per tulisan ini diketik--sukses membuat seluruh dunia lumpuh. 

Catatan ini saya buat sebagai jembatan bagi masa depan, khususnya bagi saya sendiri jika nanti berumur panjang, tentang sudut pandang saya yang tentunya sangat 'sempit' dan subjektif dalam memandang pandemi ini. Saya ingin rekam rasa yang saya alami dalam 9 bulan terakhir terdokumentasi dengan baik sampai di masa depan.


Lockdown alias PSBB

Seumur hidup, saya tidak pernah mendengar kata lockdown, hingga awal tahun 2020 muncul berita tentang sebuah daerah bernama Wuhan di Cina yang di-lockdown alias tutup 100%. Orang-orang tidak boleh masuk ke area Wuhan, sementara yang sudah berada di dalam Wuhan pun tidak boleh keluar dari sana. Penerapan lockdown Wuhan jadi berita yang fenomenal dan tersiar hampir setiap hari. Saya melihatnya seperti 'penjara raksasa' atau versi nyata dari film bertema survival, bagaimana dengan cadangan makanan mereka? Sumber energi? Kenapa seperti pemusnahan masal? Tetapi, lambat laun lockdown terjadi hampir di setiap tempat, tak hanya sebatas provinsi saja, lockdown pun terjadi dalam satu negara, Italia misalnya. Yaps, pandemi virus ini menyebabkan satu negara menutup diri dari tamu internasional, pun kepada penduduknya yang ingin keluar dari negara tersebut. Lockdown yang awalnya terasa mengerikan, lama-lama jadi fenomena 'biasa', meski dampaknya masih tetap luar biasa khususnya untuk sektor ekonomi, lockdown seperti jadi lonceng kematian (paling tidak mati suri deh) bagi perekonomian daerah yang akan menerapkannya.. Lalu apa PSBB? PSBB adalah pembatasan sosial berskala besar, alias terjemahan halus dari kata lockdown.

WFH everywhere

Maret 2020 adalah awal mula bekerja dari rumah alias work from home mulai diberlakukan di kantor saya. Selain karena 'efek kejut' awal pandemi covid menjangkit Indonesia, juga karena aturan PSBB alias lockdown yang mulai diberlakukan di DKI Jakarta. Sejak tamat kuliah di tahun 2016, ada satu hal yang amat saya rindukan: libur semester. Tapi rasanya kehidupan dunia kerja membangun jarak yang amat jauh antara saya dan angan-angan soal 'libur semester' lagi. Hingga pandemi ini tiba, saya tidak menyangka bahwa saya akan merasakan 'libur semester' lagi, jeda dari berbagai morning routine menuju kantor dan suka-cita friday night, dan lebih tidak menyangka bahwa alasan 'libur semester' ini adalah sebuah wabah. Awal-awal WFH dipenuhi dengan kecemasan karena pemberitaan tentang Covid-19 ada dimana-mana selama 24 jam tanpa henti. Di tengah kekhawatiran ini, saya dan para pekerja Jakarta lainnya juga harus mulai beradaptasi dengan proses kerja jarak jauh. Seketika, hampir setiap orang harus bisa deal with the technology, bisa saya bilang bahwa WFH dan pandemi ini seperti kelas akselerasi massal yang membuat semua orang jadi manusia yang technology savvy. 

Rapat dan pertemuan via Zoom: masa depan datang lebih cepat

Efek domino dari pemberlakuan WFH adalah semua orang beradaptasi tentang cara baru dalam melakukan pertemuan, yakni secara virtual. Awalnya saya hanya pernah satu kali mendengar soal aplikasi Zoom, tapi pandemi ini telah mengubah Zoom jadi aplikasi yang hukumnya sunnah mu'akad untuk dipahami oleh semua orang, terutama para pekerja kantoran dan pelajar/mahasiswa. Selain Zoom, sebenarnya aplikasi video conference seperti Google Meet juga kebanjiran pengguna baru, tetapi dalam circle saya, Zoom adalah yang paling banyak digunakan. Akibat penggunaan Zoom hampir setiap hari, dan mulai terbiasanya orang-orang dalam menggunakan aplikasi video conference, saya merasa bahwa setelah pandemi ini berlalu, pertemuan virtual akan mulai menjadi satu budaya baru masyarakat abad ini, hmm mungkin seperti ini ya rasanya ketika orang-orang tahun 1990an menghadapi migrasi besar-besaran dari mesin tik ke komputer...

Resesi-resesi-resesi

Selain lockdown dan WFH, ada kosa kata baru lainnya yang juga naik pamor selama masa pandemi Covid-19: resesi. Sederhananya, saya memahami resesi sebagai kondisi menurunnya angka pertumbuhan ekonomi satu negara hingga mencapai minus selama 3 bulan berturut-turut. Tahun 2020 menjadi saksi bagaimana resesi terjadi tanpa pandang bulu, pandemi ini membawa dampak sebegitu besar hingga mampu menggoyahkan perekonomian negara adidaya, sebutlah USA, Inggris, Jerman, Singapura, Eh.. bagaimana dengan Indonesia? Ya tentu saja.. 

Must have items of the year: Masker, hand sanitizer, dan sabun cuci tangan

Jauh sebelum pandemi Covid-19, saya memang sudah jadi pengguna setia masker dan rajin cuci tangan--minus hand sanitizer karena tidak suka efek kering di tangan. Namun, kini hampir semua orang menggunakan masker saat ke luar rumah, bahkan di beberapa daerah ada mekanisme denda kalau tidak pakai masker. Pada suatu hari di jadwal work from office (satu term lagi yang juga populer di masa pandemi, antonim dari WFH), saya berjalan di trotoar Salemba Raya, sepanjang jalan yang saya lalui semua orang menggunakan masker.. Satu pemandangan yang tak pernah saya lihat sebelumnya selain pada foto-foto bencana asap dan kebakaran hutan di Sumatera. Kini, masker, hand sanitizer, disinfektan, sabun cuci tangan (oh dan juga face shield!) jadi kebutuhan primer setiap orang. Tak lupa, satu fenomena yang terjadi pada awal pandemi di Indonesia, kala itu oknum-oknum culas menimbun masker medis dan hand sanitizer hingga jadi benda langka di pasaran, ingatlah bahwa pernah ada suatu masa ketika sebotol hand sanitizer 15 ribuan meroket sampai 50 ribu, dan masker seribuan jadi 10 ribu per potong, hmm.

Well, tulisan ini masih akan berlanjut, masih ada jaga jarak, lebaran sendirian di kamar kos, food shopping, dan pengalaman lainnya yang baru kali ini saya alami seumur-umur.. Stay health everyone.

Komentar

  1. Pandemi memang membuat semua orang merana. Ditunggu cerita selanjutnya mbak Kinanti.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Tak Terlupakan ke Gunung Rinjani

Tips Meredakan Rhinitis Alergi (Pengalaman Pribadi)

Eduard Douwes Dekker, Seorang Belanda Penentang Sistem Tanam Paksa di Indonesia