Ngebolang Chapter Surabaya: Perjalanan Menuntaskan Kenangan

Bismillah.

Ada satu kutipan dari drama Korea "Because This is My First Life" yang sangat saya suka, kurang lebih begini..

"Bertemu dengan seseorang itu adalah hal yang luar biasa, karena ia membawa masa lalunya, masa kininya, dan masa depannya"

Menyambung perbincangan saya dengan Kak Herlin saat di Tuban, kami ahirnya memutuskan untuk ke Surabaya. Saya memang pernah mampir sebentar ke Bandara Juanda Surabaya 3 tahun yang lalu, tetapi tidak pernah berkunjung ke pusat kotanya, makanya saya penasaran kayak apa banget Kota Surabaya. Besides, sejak pertama nama kota itu disebut, otak saya sudah tersambung pada kenangan masa kecil yang istimewa tentang kota ini.

Selamat datang di Surabaya
Tangerang, Sebelum Tahun 2008
Saya adalah remaja putri yang menjalani hidup seperti orang-orang pada umumnya. Saya sekolah di SMP swasta. Bapak seorang buruh di pabrik tekstil milik anak perusahan Gajah Tunggal. Mama adalah ibu rumah tangga, adik-adik masih melanjutkan sekolah di SD kampung. Hidup saya benar-benar seperti orang-orang pada umumnya. Keluarga saya tinggal di kawasan sub-urban Tangerang. Mayoritas penduduk disini adalah buruh pendatang, maka cara bergaul kami adalah cara bergaul a la buruh, mindset orang tua-orang tua mendidik anaknya adalah mindset seorang buruh, obrolan-obrolan ibu-ibu kompleks pun seputar obrolan nasib jadi istri buruh. Kami hidup di perumahan yang cukup rapat sehingga tangis rewel anak tetangga pasti terdengar di ruang-ruang rumah kami. Bapak adalah ketua RT 05 yang menjabat sejak pertama kali kami pindah, awal tahun 2000an, hingga saya SMP. Bagi seorang Lala remaja, hidup adalah antara kamar tidur, jalan menuju sekolah, kelas, sampai kembali lagi ke kamar tidur. Waktu senggang saya dihabiskan dengan nge-fans sama F4, Westlife, dan mengoleksi kertas binder. Orang-orang dalam hidup saya adalah keluarga, teman sekolah, dan tetangga. Ah, tetangga.. ini yang akan jadi mata rantai cerita panjang-lebar kali ini.

Perumahan tempat kami tinggal adalah perumahan yang baru dibangun, sehingga kami menjadi generasi pertama yang menempatinya. Kebanyakan dari kami adalah keluarga muda yang anak-anaknya sebaya. Maka, selain tetangga, atmosfer  RT 05 sudah seperti keluarga besar. Kami anak-anak RT 05 tumbuh bersama, bermain bersama, masa kecil saya adalah juga masa kecil mereka. Setiap hari kami bergiliran main ke rumah si A atau rumah si B, untuk bermain dan nonton tv dengan jadwal tayangan yang sama: Teletubbies, Kapten Tsubasa, atau Hachi. Saat sore hari, kami pergi mengaji ke TPA yang sama, hingga magrib pun pergi sholat ke masjid bersama. Malam Minggu adalah surganya anak-anak RT 05, ibu-ibu kami membebaskan dari kewajiban belajar malam, sehingga kami bisa main petak umpet atau galasing sampai jam 10 malam. 

Dari semua keluarga penghuni RT 05, ada 2 keluarga yang sangat spesial bagi keluarga saya, kami 3 keluarga ini sudah klik banget dari orang tua sampai ke anaknya, tetangga rasa keluarga deh! Ialah keluarga Pak Aji (nama samaran) dan  keluarga Pak Sugeng (nama samaran juga). Pak Aji punya dua anak, yakni Didi dan Oji (nama samaran semua) yang tidak akan banyak saya ceritakan dalam tulisan ini, sedangkan Pak Sugeng punya tiga anak, yakni Musi, Yora, dan alm. Dik Bari (nama samaran semua). 

Tentang Keluarga Pak Sugeng
Saya merasa perlu menuliskan interaksi seperti apa yang pernah tercipta antara saya dan keluarga Pak Sugeng untuk dapat menggambarkan kenangan dan kedekatan saya dengan mereka

Dulu saya sangat suka manjat pohon ceri, dan di RT kami pohon ceri yang paling tinggi ada di halaman rumah Pak Sugeng, tingginya sekitar 5-6 meter. Minggu pagi itu saya suntuk di rumah, tapi terlalu pagi juga untuk mengajak anak-anak main kejar-kejaran. Akhirnya saya dan adik laki-laki main ke rumah Pak Sugeng.

"Musi main yook!"
"Ayuk manjat pohon ceri yok, liat matahari terbit", saya dipanggilnya ayuk, pangilan mbak dalam bahasa Palembang.

Saya mengira-ngira tinggi pohon ceri dengan kondisi pagi yang masih agak gelap, ah tak apalah, toh kalau ada apa-apa ada Musi dan adik juga.

"Yok"

Dan itulah sunrise pertama dalam hidup saya. Hal pertama yang terlintas dalam benak saya kala itu ternyata pemandangan matahari terbit seperti di tivi itu benar-benar ada. Maklum, rumah saya hanya 1 lantai, Tangerang adalah dataran rendah, sehingga melihat matahari dari ketinggian pohon ceri adalah pengalaman yang luar biasa. Sunrise pertama itulah yang menjadi bibit kecintaan saya pada alam dan kebebasan, dari sunrise itu kemudian saya jadi mudah jatuh cinta pada pendakian. Sayangnya, setelah hari itu pohon ceri depan rumah Pak Sugeng ditebang, takut kami mengulang hal yang sama dan diikuti oleh adik-adik kami.

Lalu, pada perayaan 17-an (saya lupa tahun berapa) seperti RT-RT lainnya, di RT kami juga gegap gempita dengan berbagai lomba 17-an. Salah satunya adalah lomba melukis. Sepanjang saya sekolah, tidak ada teman dan guru yang pernah memuji gambar saya, sehingga saya merasa oh mungkin memang gambar saya biasa-biasa aja, mama bohong kalo bilang gambarku bagus, itu mah buat nyenengin hati anak aja. Sampai hari pengumuman lomba 17-an.. Saya keluar sebagai juara 1 lomba melukis. Salah satu juri lomba lukis adalah Pak Sugeng, karena ia adalah seorang pelukis (serius, dia bekerja sebagai buruh desain di pabrik keramik). Pak Sugeng bilang pada mama saya, 

"Lala ini berbakat"

Hati saya meluap-luap mendengar kalimat Pak Sugeng. Ya, saya sadar saya punya bakat, tetapi saya terlalu rendah diri.. Well, dari kalimat Pak Sugeng yang menaikkan kepercayaan diri, sekarang saya jadi suka melukis.

Lalu soal Dik Bari. Hmm.. Tahun itu jadi tahun yang berat bagi keluarga Pak Sugeng, Bu Sugeng hamil tua, saat Bari lahir ternyata ia mengidap down syndrom. Pak Sugeng dan Bu Sugeng bolak-balik ke rumah sakit, Musi dan Yora dititipkan bergantian ke rumah-rumah tetangga. Kurang dari 1 tahun sorot mata pasutri ini tak bercahaya seperti tahun-tahun yang dulu. Apalah arti gaji seorang buruh, terperas habis sudah oleh biaya rumah sakit. Hingga akhirnya garis hidup mereka sampai episode Bari meninggal dunia. Ya, setelah satu tahun sembilan bulan yang panjang pada akhirnya semua sampai pada keputusan terbaik dari-Nya. Saya ingat sekali, untuk meringankan tanggungan keluarga Pak Sugeng, Bapak meminjamkan mobil kami untuk mengantar jenazah Dik Bari, Bapak juga yang jadi sopirnya. Dengan digendong Pak Sugeng, jenazah Dik Bari kami antarkan ke pemakaman. Sepintas saya lihat (bagaimana pun juga) guratan putus asa masih tergambar di wajah Bu Sugeng, sementara Pak Sugeng berusaha untuk tidak menangis karena ia sedang menggendong jenazah Dik Bari. Saya memilih masuk ke dalam kamar saja, saya memang masih bocah SD yang mungkin tidak begitu paham situasi ini, tetapi apa yang saya saksikan, segala proses panjang yang keluarga Pak Sugeng lewati, ah.. terlalu sedih.

Krisis Ekonomi Tahun 2008
Satu kata untuk tahun 2008: Berat. Krisis tahun 2008 membawa dampak yang besar bagi kehidupan buruh di Tangerang, semua serba chaos, PHK dimana-mana, dan salah satu dari ribuan buruh korban PHK itu adalah Bapak. 2008 jadi titik balik kehidupan kami, apa yang orang tua saya perjuangkan bertahun-tahun berakhir pada jalan buntu, Tangerang sudah tidak memberikan harapan apa-apa lagi bagi kami. Lalu keputusan besar dibuat, kami hijrah dari Tangerang ke kampung halaman orang tua di Sumatera Selatan. 

Malam kepindahan kami adalah malam yang berat, baik bagi yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Dari kepindahan itu saya baru sadar betapa besar dan dalamnya kenangan yang tercipta dengan orang-orang dalam kehidupan saya. Tapi siapa sangka, bahwa kepindahan itu juga menjadi akhir dari semua yang pernah tercipta di Tangerang. Sejak pindah, saya tidak pernah berkabar lagi dengan tetangga-tetangga RT 05. Bukan soal jarak, toh saat ini saya juga merantau di Depok dan sudah beberapa kali berkunjung ke Tangerang. Yah, hanya saja terlalu banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun, saya terlalu malas untuk menyambung apa yang terpisah dalam 1 dekade itu.

Look! I found rare item in google maps, my old house with that triangle attic. Omg, this is where I grew up.
Surabaya Kota Kenangan

"Didi cita-citanya mau jadi apa?" Tanya mama saya, mama memang suka ngobrol dengan siapa saja.
"Jadi polisi buk"
"Kalau Ega cita-citanya mau jadi apa?"
"Jadi polisi buk, samaan kayak Didi"
"Musi cita-citanya mau jadi apa?" 
"Mau jadi masinis"

Saya refleks nengok ke sumber suara, hmm unik.. jarang-jarang saya dengar jawaban cita-cita jadi masinis, biasanya mah default aja: polisi, dokter, pilot.

"Soalnya dia seneng mudik ke Surabaya naik kereta buk" Jelas Bu Sugeng

Begitulah kira-kira obrolan sore itu saat ibu-ibu dan anak-anak sedang kumpul di pos ronda RT 05.

Keluarga Pak Sugeng lah yang memperkenalkan saya pada Kota Surabaya, dari Bu Sugeng saya jadi tahu yang namanya Lontong Balap, dari Pak Sugeng saya jadi tahu lagu "Surabaya oh Surabaya".




Image Kota Surabaya sangat melekat pada keluarga ini, membuat saya penasaran "yang mana banget sih yang namanya Kota Surabaya kampungnya si Musi?"

Kembali lagi ke Tuban, hati saya makin excited. Saya ingin menyusuri tanah kebanggaan keluarga Pak Sugeng. Sebenarnya saya tahu sosial media Musi, tapi memang tidak pernah saya add friend. Maka sebelum ke Surabaya, saya iseng kepo sosmed Musi, dari sana saya menerka-nerka apa kabar keluarga mereka.. Yang bisa saya simpulkan dari sosmed Musi, saat ini keluarga Pak Sugeng juga sudah tak lagi tinggal di Tangerang, Yora merantau entah kemana (sepertinya Jakarta), dan Musi jadi pelayan di restoran roti bakar di Surabaya. Saya cukup bergetar, 

"Musi bagaimana dengan cita-citamu? Masih teringat saat kamu semangat bercerita tentang masinis, tentang serunya perjalanan mudik ke Surabaya, kehidupan macam apa yang keluarga kalian hadapi?"

Berbagai pertanyaan dan terkaan mengiringi perjalanan 4 jam menuju Surabaya. Setelah 10 tahun akhirnya saya bisa berkunjung ke kampung halaman keluarga Pak Sugeng. Mungkin saat ini Musi sedang memeriksa pesanan roti bakar di tempat bekerjanya, sementara saya sedang melintasi tol Gresik-Surabaya, kami berada di bawah langit Surabaya tetapi tidak bisa bertemu. Saat mobil travel kami memasuki Kota Surabaya, mata saya menyisir setiap deretan ruko, mencari-cari siapa tahu saya lewat depan toko roti bakar. Tetapi hingga sampai ke hotel (dan kembali lagi ke Jakarta) toko roti bakar tidak ada dalam cerita perjalanan saya.

Sore hari, saya cek lagi sosmed Musi:

"Senja itu spesial. Hanya datang pada waktu tertentu, saat dia datang dia membawa keindahan" 4 November 2017.

4 November? hari ini dong.
Saya diam sejenak, menengadah di depan patung Sura dan Buaya. Musi, kita melihat senja yang sama, entah kamu di Surabaya sebelah mana..

Oke begitulah gambaran betapa dalam arti Kota Surabaya untuk saya. Sedih ngga sedih ngga? Ngga ya? Hahaha.. yoweslah kita lanjut ke cerita bolang tentang kegiatan-kegiatan agak-cukup-lumayan berfaedah di Surabaya.

Sabtu, 4 November 2017
Demi Kampus ITS dan Patung Sura-Buaya yang Suka Ada di Tivi !!!
Saya dan Kak Herlin naik travel antar jemput, jadi si mas travel akan mengantar kami sampai ke depan hotel. Selain kami ada 2 penumpang lainnya.

"Wah Mba beruntung, biasanya gak ada travel pagi dari Tuban ke Surabaya, iya ngga mba?", si mas travel menunggu pembenaran dari si mba penumpang
"Iya pak", si Mba nya senyum-senyum aja

Lah terus kenapa ini mas mau narik penumpang pagi-pagi dah. Seakan bisa membaca keheranan saya si mas lanjut ngomong lagi

"Saya semalam abis dapat penumpang dari Bandara Juanda minta diantar ke Tuban, karena pulangnya malam banget yaudah saya sekalian nginep di Tuban..eh pas banget mba nya nelpon tadi malam, rejeki dah"

Saya dapat kontak mas ini dari google, kami juga baru ada keputusan ke Surabaya jam 9 malam, haha. Kalau dipikir-pikir, saya dan Kak Herlin memang beruntung sih, karena sepanjang jalan Tuban-Surabaya tidak terlihat ada kendaraan umum, jadi pilihannya hanya naik kendaraan pribadi atau travel yang kalau ngikutin jadwal normal hanya ada setiap pukul 2 siang thok.

"Mba tapi ini kita nganter si mba yang ini dulu ya, dia ada acara di ITS jam 11, jadi saya juga berusaha untuk cepet biar mba nya nggak telat, mba nggak buru-buru kan?"
"Oh iya boleh-boleh mas", malah seneng saya mah mas, haha.

Sesampainya di Surabaya tujuan kami yang pertama adalah nge-drop si mba ITS dulu. Wah ternyata letak ITS cukup jauh dari pusat kota. Saya dan Kak Herlin sih hepi-hepi aja diajak ke ITS, lumayan kan jadi jalan-jalan keliling Kota Surabaya gratis, hehe. Mas driver ini juga kebetulan orangnya suka ngobrol, jadi sepanjang jalan dia menjelaskan seluk-beluk Kota Surabaya, tempat ini namanya apa, tempat asyik di sebelah mana..

"Mba nya nginep di hotel apa?"
"Pop Hotel mas, di Jalan Diponegoro"
"Wah itu deket Taman Bungkul mbaa, nanti mba nya tinggal jalan kaki aja ke Taman Bungkul"
"Iya mas"

Iya lah mas saya mah ga mau rugi soal jalan-jalan, sengaja tak cari hotel yang dekat Taman Bungkul. Setelah nge-drop si mba ITS, mas driver lanjut mengantar saya dan Kak Herlin ke hotel. Lalu, di depan kampus ITS mas driver menawarkan kalau saya dan Kak Herlin mau foto di depan tugu tulisan ITS, kami mau dong. Jadi si mas menepi sebentar, saya dan Kak Herlin keluar dari mobil.. jrengggg... seketika kepala kami nyut-nyutan.. gila ini panas dan silau banget! Oke kepalang udah keluar kami paksakan untuk senyum. Kelar foto, kami langsung ngibrit ke dalam mobil.

"Mas AC nya digedein mas", si mas nya ketawa aja.
"Manusia itu memang mahluk sempurna ya mba, bisa cepat beradaptasi, tinggal di tempat yang panas kayak gini aja tahan"
Ya deh mas, apapun, otak saya lagi gak connect~

Demi sebuah foto -_-"
Saya akui, Surabaya itu puanaaas banget! AC mobil dinyalakan sejak dari Tuban dengan suhu yang sama, tapi begitu masuk Surabaya kok makin ga kerasa nih AC, ckckck.. Dengan bermandikan cahaya matahari yang cemerlang di hari yang panas sampilah kami ke hotel, alhamdulillaaah!

Langsung cus check in, naik lift, masuk kamar, dan melempar badan di atas kasur, huaah. AC kami nyalakan sampai suhu 18 derajat, wah ini adalah sebuah prestasi bagi manusia-manusia ga tahan AC seperi saya dan Kak Herlin. Setelah menurunkan suhu badan, barulah kami bisa berpikir agak jernih.

"Wah kamar hotelnya bagus ya kak"
"Iya kepikiran aja ya bikin minimalis kayak gini"

Wis ini bukan promo, tapi kamarnya emang beneran recommended, mungil dan stylish gitu deh. Untuk lebih lengkap silakan googling yak.


Lobby hotelnya unyu kayak gini nih, kamarnya minimalis, harganya juga murah (under 300k!)
Waku menunjukkan pukul 12 siang, saking capeknya saya dan Kak Herlin sampai tidak nafsu cari makan di luar meski perut keroncongan. Akhirnya kami pesan makanan hotel ke kamar, kelar ishoma kami tidur. Yak, tidur! Rencana mau jalan-jalan buyar sudah, ga tahan sama panasnya udara di luar. Sekitar pukul 4 sore kami baru bangun, haha..

Setelah ngumpulin nyawa dan 9 bola naga dragon ball saya baru bisa mikir, okelah cuaca tadi siang emang ga selow banget, tapi saya gak mau rugi udah jauh-jauh ke Surabaya jadi sleeping (not) beauty doang. Saya bangunkan Kak Herlin.

"Kak, ke patung Sura-Buaya yuk.. di maps deket dari sini"
"Iya La, sekalian aku ajak temenku juga ya"
"Bebas boss"

Setelah janjian, ngobrol-ngobrol, pesan ojek online, akhirnya kami berangkat dengan tambahan personil 2 orang teman Kak Herlin. Karena sudah mepet magrib, kami mampir sholat dulu di Masjid Al-Falah. Kelar sholat kami langsung menuju TKP, ini niat seniat-niatnya niat ya.. langit sudah mulai gelap dan kami baru mau jalan ke Patung Sura-Buaya, hahaha. And finally!! Kami sampai di depan patungnya! Saya merasa puas banget setelah bisa melihat langsung pakai mata-kepala sendiri seperti apa patung Sura-Buaya. Gimana ngga penasaran coba, setiap nonton berita kalau liputannya soal Surabaya pasti shoot gambarnya berlatar patung ini. Finally!! The day has come, saya membayangkan suatu saat nanti di masa depan keluarga saya lagi nonton tivi, lalu ada siaran di depan patung Sura-Buaya, saya bisa pamer ke anak "Dulu mama pernah kesitu", I feel so cool 😎

Ini pas masih agak sore
Ini pas udah mau gelap


Kelar foto-foto alay, kami buru-buru kembali ke hotel karena Kak Herlin mengejar jadwal kereta.. Loh kok? Iya, jadi gini (terus gitu)... Kak Herlin ada acara hari Minggu pagi, mau naik pesawat mager dari bandara ke rumah tengah malam, jadinya dia mau naik kereta aja biar bisa bobo cantik dulu~

Dan begitulah, Kak Herlin sudah diantar temannya ke stasiun, malam ini saya sendirian di kamar hotel. Saya tengok jendela sebentar, ah persetan dengan pemandangan lampu kota dikala malam, di samping tuh gedung tua yang kayak mau roboh gitu, agak creepy gitu deh.

Pemandangan dari jendela kamar aku foto pas siang-siang, astagah~
Jadi langsung saya tutup gorden rapat-rapat, nyalain tivi walau ngga ditonton-tonton amat, dan mempersiapkan amunisi: ciki, coklat, susu, dan cemilan lainnya. TIba-tiba saya kepikiran begini,

"Wah tapi ini momennya dapet banget nih, disamping gedung tua, ini udah malam dan gue lagi sendirian begini, coba uji nyali ah baca threat serem"

Jadi saya ambil handphone dan nekad baca threat cerita hohor di kaskus, hahaha.. itu loh cerita Keluarga Tak Kasat Mata yang nowaday lagi tayang di bioskop. Cukup dag-dig-dug ya baca beginian di hotel malam-malam sendirian, seketika kamar ini hilang keunyuannya. Oke baca part 1, 2, ..Akhirnya saya nyerah sampai part 8, haha.. saya lanjut makan-nonton-gegulingan-karaokean-maskeran-makan lagi-terus bobo cantik.

Keluarga Tak Kasat Mata, baca deh seruu~
Minggu, 5 November 2017
Car Free Day Pertama di Tahun 2017
Saya ngga ngerti sih definisi car free day itu sebenarnya apa, setiap weekend saya memang biasa jogging di Kampus UI, katanya sih itu car free day tapi tetap aja tuh ada kendaraan bermotor. Dan dibilang harinya olahraga ya enggak juga, kebanyakan hanya jalan santai dan duduk-duduk bae. Maka, saya mengkonstruksi ulang makna car free day itu kayak CFD di Jalan Slamet Riyadi Solo yang ditandai dengan penjual makanan tumpah ruah di jalanan bebas kendaraan. Saya sudah browsing, di Surabaya ini juga ada CFD, pusatnya di Taman Bungkul, ahh terbaik memang!

Jadi Minggu pagi saya langsung keluar hotel, jalan kaki menuju Taman Bungkul. Nah ini baru CFD, dari simpang seberang hotel sampai ke Taman Bungkul isinya makanan semua, saya suka nih!

Jalan Raya Darmo

Ramainyaa

See? Tak ada yang benar-benar olahraga saat CFD
Dekat Taman Bungkul ada makam sunan gitu, tapi aku ga berani masuk 
CFD Surabaya ada di Taman Bungkul dan sepanjang Jalan Raya Darmo. Hari ini CFD nya lebih ramai dari biasa karena selain orang-orang pada 'jogging', juga banyak pelajar dan orang-orang berseragam polisi/militer (entahlah) yang sedang latihan parade untuk persiapan perayaan Hari Pahlawan. Saya menikmati jalan-jalan pagi ini sendirian di tengah keramaian sambil pakai earphone dengerin lagu M2M The Day You Went Away (yakali, haha).

(Ouw ouw ouw Did I lose.. haha)

Hmm saya belum nemu-nemu nih makanan yang kira-kira ngga bakal saya temui di Jekardah. Setelah berkelana mencari kitab suci ke barat akhirnya saya ketemu juga sama mba penjual Semanggi Suroboyo, itu sejenis pecel gitu, yang uniknya dalam komposisi sayuran yang digunakan ada daun semanggi dan bunga turi.

"Niki pinten mba?" (Gils gue bangga banget bisa bilang begini!)
"Sepuluh ribu mba"
"Oke beli satu dibungkus ya mba" (ilang bahasa jawanya, haha)

Semanggi Suroboyo niih, itu yang hijau muda bunga turi nya
Nah sudah bawa satu tentengan nih. lanjut beli sarapan: Lontong Balap, yang paling saya suka dari lontong yang satu ini adalah kuahnya tidak menggunakan santan, tapi menggunakan air (udah kesel belum? hehe). Intinya rasanya ngga oily banget. Dan di tempat saya makan ini si Bapaknya juga jualan sate kerang, jadi makan lontongnya pake kerang gitu, enak deh!

Lontong Balap pakai sate kerang, ini enak banget asliii
I really enjoy my breakfast, kapan lagi pagi-pagi sendirian di kota orang kayak anak nyasar terus duduk ngemper sama warga sekitar untuk makan lontong balap, duh kalau inget Minggu pagi itu saya senyum-senyum sendiri, me time is a must! Sambil makan saya jadi pengamat sekitar, saya dengerkan saja orang-orang pada ngobrol pakai Bahasa Jawa yang tidak saya mengerti, saya menikmati hangat matahari yang mulai meninggi, saya jadi penonton di luar layar kehidupan CFD Surabaya pagi ini. Setelah kenyang makan dan puas mengamati, saya balik ke hotel sambil bawa belanjaan makanan dengan gaya cool sambil pakai earphone dengerin lagu Armada-Asal Kau Bahagia.

Dan begitulah, perjalanan (not really) 2 hari di Kota Surabaya selesai. Walau pada akhirnya tidak bertemu keluarga Pak Sugeng, tetapi saya merasa puas. Lebih nyaman seperti ini, biar memori saya tentang mereka hidup apa adanya, tidak perlu dirusak dengan kisah tentang mereka 'hari ini'. Saya packing semua barang dan meluncur ke Bandara Juanda. Hmm.. anyway selepas CFD pagi ini saya jadi berpikir, ternyata menyenangkan juga ya escape di tengah keramaian seperti tadi, tak harus lari ke gunung dan pantai melulu. Sepertinya pada hari-hari ke depan saya akan mencoba melakukan solo travelling.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Tak Terlupakan ke Gunung Rinjani

Tips Meredakan Rhinitis Alergi (Pengalaman Pribadi)

Eduard Douwes Dekker, Seorang Belanda Penentang Sistem Tanam Paksa di Indonesia