Tuban, You Effin Rock!

Bismillah.

Perjalanan yang keren tidak hanya bicara soal seberapa indah alamnya, seberapa keren spot wisatanya, tetapi juga soal pertemuan dengan orang-orangnya. Hanya saja tidak semua perjalanan ada kesempatan untuk berinteraksi banyak apalagi mendalam sama penduduk asli sana. But this time, di perjalanan ke Tuban saya bisa explore lebih banyak soal alam dan manusianya.

Iya, beneran Tuban. Agak mengherankan ya, kayaknya Tuban nggak begitu common untuk jadi destinasi ngebolang. Yap, saya pun tidak terpikir untuk sengaja datang ke Tuban hingga akhirnya ditakdirkan untuk bisa sampai ke sana.

Perjalanan kece ini dimulai ketika Selasa sore, 31 Oktober 2017, grup whatsapp kantor mendadak penuh dengan notifikasi. Rupanya orang kantor pusat akan melakukan assessment kepada desa calon penerima bantuan dana zakat community development (mari selanjutnya kita sebut dengan ZCD), in other side,  divisi saya juga ada keperluan untuk assess ZCD sesuai alat ukur yang sudah kami buat, nah pas banget kan momennya. Kemudian, yang jadi persoalan adalah semua orang divisi sedang turun lapang, tak ada yang available untuk ikut orang pusat. Dan suddenlly keluarlah nama saya dan Kak Herlin (teman se-subdivisi ane) yang ditugaskan turun lapang ke Tuban besokannya, yes, besokannya alias hari Rabu 1 November 2017, tidak tanggung-tanggung perjadinnya empat hari loh karena titik yang harus disamperin ada 6 desa..

Buset dah.. Saya seneng sih melakukan perjalanan dinas, tapi..tapi.. ini dadakan banget, gimana akomodasinya? Gimana penginapannya? Dan yang terutama apa yang mau saya kerjain disana sama orang pusat??

Perjalanan Commuter Line Jakarta-Depok itu jadi dipenuhi dengan keriweuhan koordinasi saya dan Kak Herlin. Disamping itu saya juga agak kurang fit karena 3 hari sebelumnya habis dinas ke Sumatera. Dan lagi.. ini ke Tuban, what is Tuban? Where is Tuban? (peace, hehe)

"Kak Herlin, udah nanya ke tim ZCD gimana caranya ke Tuban" - kamilah is typing...
"Udah, kata Mba Herlina kita susul mereka naik kereta, turun di Bojonegoro. Dari Bojonegoro akan dijemput naik mobil ke Tuban dan langsung gabung di lapangan"

Firstly I need to give you the explanation, Kak Herlin dan Mba Herlina adalah dua orang yang berbeda yang dipisahkan oleh gen, ikatan darah, daerah, dan huruf A. Secondly, ke Tuban ternyata harus naik kereta, astaga dragon ke Jawa Timur naik kereta dengan kondisi badan kurang fit dan semendadak ini apalagi saya perempuan, perempuan itu ribet, rumit, rese, dan ini perempuannya ada 2, nah loh kebayang kan gimana riweuhnya. Oke, mau tak mau, suka tak suka, akhirnya saya dan Kak Herlin berangkat juga 😂 (gils baru kepikir kenapa ngga pake emot di blog, tuing tuing)

Rabu-Kamis, 1-2 November 2017
Kereta kami melaju kencang pukul 19.00, mengantarkan kami sampai ke Stasiun Bojonegoro pada pukul 04.00 dini hari.

Tengah malam, Pak Eka kepala program ZCD nge-wa saya,

"Mas Agus yang akan jemput, mbak"
"Baik Pak Eka"
"Siap mbak, pesan sama kondektur buat kasih kode saat sampai Cepu"

Buset dah..males banget saya untuk cari-cari kondektur paaak, oke saya cek gmaps, hmm masih 3 jam lagi sampai Cepu, oke sip pasang alarm aja lah terus kita lanjut bobo cantik.

zzzrrrt..zzzrrrt.. (ini ceritanya suara handphone, bukan ngorok -_-")

"Halo Mba Lala, saya Agus dari BAZNAS Tuban.."
"Iya pak, ini saya sudah di kereta, sekitar jam 4 subuh sudah sampai Bojonegoro"
Baru mau tidur eh kebangun lagi karena telpon dari Mas Agus, staf BAZNAS yang akan membersamai perjalanan saya sampai dua hari ke depan.

Pukul 4 kurang, hanya tinggal hitungan beberapa kilometer kereta kami akan tiba di Bojonegoro. Rencana saya dan Kak Herlin akan sholat subuh di stasiun sambil menunggu kedatangan Mas Agus.

zzzrrrt..zzzzrrt..

"Halo Mba Lala, saya sudah di depan pintu stasiun ya!"
"Oke saya masih di kereta mas, bentar lagi sampe"

(klik)

Asli dah gercep banget nih orang 😒

Rencana kami berubah, keluar dari stasiun kami sudah berpindah moda ke mobil innova, mencari masjid terdekat dilanjutkan perjalanan sekitar 2 jam menuju Tuban, anyway ini 2 jam karena jalannya ngebut banget, jadi yang katanya Bojonegoro dekat sama Tuban itu hoax banget, haha.. aslinya mah jauuuh cuma karena sepi saja jadinya bisa jalan tanpa hambatan.

"Mba kita ngopi di indomaret dulu ya, kantor Baznas nya udah deket kok"
"Oke manut mas"

Ini gaul pisan ya, biar kata di desa kami nyarapnya a la kota: secangkir latte panas dan roti hangat fresh from the oven. Tak pikir kan bakal disuguhin nasi uduk gitu ya.. Yaudah deh, baru kenal gengsi dulu haha.

Sesuai jadwal, hari pertama ini kami akan langsung turun lapang, but first mandi duluuu.

Kamis, 2 November 2017
Pagi ini, kegiatan kami dimulai dengan perkenalan dan ramah-tamah ke Baznas Tuban. Kemudian kami mulai turun ke titik pertama: Desa Sumurgung.

Dari pusat kota yang sebenarnya nggak kota-kota amat, mobil kami melaju memasuki area persawahan. Tak ada kendaraan umum untuk dapat mencapai desa ini. Lepas dari area persawahan, mobil mulai memasuki perkampungan yang cukup padat tetapi rapi, mirip-mirip perumahan gitu deh. Kami tiba di Balai Desa, sudah ada Pak Kades atau yang disini disebutnya Pak Inggih (orang yang ditinggikan). Bersama Pak Inggih kami mengunjungi rumah salah satu penduduk, yang disana sudah berkumpul para pengrajin batik tulis Desa Sumurgung. Yap, produk unggulan desa ini adalah batik. 

Sumurgung - Ini batik tulisnya
Di desa ini ada 4 pengusaha batik besar, jadi hampir sisa penduduk desa selain 4 pengusaha+keluarganya pada jadi buruh di pabrik mereka.. wah wah wah.. iya sih ya membuka lapangan kerja, cuma keren juga ya sampai orang sekampung-kampung kerjanya di mereka doang, hmm jadi kayak memonopoli ngga sih (?). Penduduk desa sebenarnya sudah memiliki skill membatik, juga sudah punya alat-alatnya meski dalam jumlah kecil, jadi masalah yang dihadapi penduduk desa sih klasik yakni soal modal. Oke itu untuk desa pertama.

Sumurgung - Sentra batik Jawa Timur gitu ya?
Dari Sumurgung kami lanjut ke Desa Ngino. Kami tiba bertepatan dengan adzan zuhur dan jam makan siang, jadi kami disilakan makan dulu. Di perjalanan Mas Agus bilang kalau nanti kita akan mengunjungi telaga, jadi makannya akan di pinggir telaga.

"Wah cakep nih", pikir saya.

Ketika sampai di TKP, duh asli pingin ketawa tapi ga enak, hahaha.. yang katanya telaga itu ternyata sejenis waduk super mini yang diberi berbagai fasilitas sehingga jadi kayak taman (kalo di Jakarta mirip-mirip RPTRA lah). Saya sih lihatnya biasa saja, tapi ya penduduk desanya pada excited dan menganggap bahwa telaga ini adalah spot yang hype dan keren, terlihat dari banyaknya muda-mudi, ibu-ibu, dan anak-anak yang nongkrong di sekitar telaga padahal itu lagi siang bolong dan panas banget! Hahaha, yaudah deh buat kamu mah apa sih yang nggak~

Ngino - Ini waduk mininya

Ngino - Namanya Sendang Asmoro, sedang itself means telaga

Ngino - Dihias-hias gitu telaganya
Lain desa lain masalah, kalau di Sumurgung masalahnya di modal, nah Desa Nginu ini masalahnya di pendidikan dan kesehatan.. 70% rumah penduduk disini MCK nya belum layak.. dan untuk pendidikan, masih banyak banget penduduk desa terutama diatas usia produktif yang masih buta huruf. Bahkan penduduk yang tamat sarjana itu nggak sampai 20 orang. Yang masih di Pulau Jawa aja lagi-lagi begitu ya masalahnya, apalagi yang di luar Jawa..

Btw ada yang bikin saya terkesan sama makan siang di Ngino, lauknya itu ikan lele goreng dan sayur asem. Sayur asemnya ini literally asem banget, pedas, dan segar. Yang uniknya di sayur asem ini kita ngga akan menemukan daun melinjo, labu siam, atau mantan kacang panjang, tetapi sayurnya pakai biji pohon kelor, joss! Cara makannya emang rada ribet sih, bijinya masih terbungkus batang kayak kacang panjang gitu, bedanya sama kacang panjang ini mah bagian kulit luar biji ngga bisa dimakan, jadi kita cuma makan biji di bagian dalam yang bentuknya mirip-mirip kacang polong.

Ngino - Buah? biji? tanaman? apapun deh istilahnya, ini dari pohon kelor
Oke desa ketiga untuk hari ini adalah Desa Pakis. Untuk sampai ke desa ini butuh lebih  banyak perjuangan. In my opinion, dari semua desa yang kami kunjungi, Pakis adalah yang paling tertinggal. Disini sinyal susah, kendaraan umum ngga ada, dan jauh dari mana-mana. Mayoritas penduduk Desa Pakis adalah peternak kambing atau sapi. Mereka mengakui bahwa ilmu yang mereka miliki dalam berternak masih sangat minim.

"Kami butuh buku-buku pak tentang peternakan, soalnya kalau mau lihat di internet susah. Disini tidak ada sinyal", kata seoarang peternak
"Makanya, kalau ada yang lagi keluar desa biasanya nanti sekalian kami nitip donlot vidio cara ternak di yutup" yang lain menimpali

*lah keren ya pak kepikiran aja download dari youtube 

Sebelum pulang, para peternak mengajak kami makan bersama. Lauk yang disuguhkan sangat sederhana tetapi melimpah, hampir semua lauk, nasi, sayur, dan buah adalah hasil dari kebun sendiri. Betapa membahagiakannya mendapatkan kesempatan kumpul-kumpul yang sederhana tapi hangat seperti ini. Sebuah ending yang indah untuk menutup perjalanan panjang tanpa pause dari Jakarta-Tuban.

Pakis - Makanan yang melimpah ruah

Pakis - Kue merah, hehe

Pakis - Anak kambing unyuuu

Pakis - Herlin dan herlina, beda ibu beda bapak 
Jumat, 3 November 2017
Hari ini rencananya kami akan mengunjungi Desa Ngimbang, Desa Sugihan, dan Desa Guwoterus. Ada yang spesial dari Desa Guwoterus, disana terdapat wisata river tubing, itu tuh sejenis susur sungai pakai ban besar gitu deh. Buat manas-manasin kami, Mba Herlina dan Pak Eka menunjukkan foto saat mereka assessment kesana sekaligus main river tubing, sukses sih manas-manasinnya, hehe. Jadi selain menyiapkan kuesioner, saya dan Kak Herlin juga sudah siapkan baju ganti (terniat).

Kita nego sama Mas Agus, gimana kalau Desa Guwoterus dikunjungi terakhir saja supaya kami bisa lebih leluasa main river tubing-nya. Sepakat. Jadi perjalanan dimulai dengan Desa Ngimbang.

3 desa ini lokasinya memang lebih jauh dari pada 3 desa yang kami datangi di hari sebelumnya. Selain lebih jauh, pemandangan yang terhampar sepanjang jalan juga lebih "wah". Saya baru melihat sisi uniknya Tuban, relief tanah disini sangat unik, seumur hidup baru kali ini saya melihat bentang alam yang seperti ini. Tanah yang luas, jalannya bergelombang naik-turun seperti dalam setting film-film Amerika, pepohonan tumbuh tidak seberapa tinggi, pun bangunan menjulang hampir tak ada sehingga kita dapat melihat langit dengan lebih lapang. Di seluruh penjuru mata angin selalu berbatasan dengan bukit kapur, seakan menjadi benteng kokoh yang mengelilingi Tuban. 

Ngimbang - Pohonnya jarang-jarang gini, unik deh
Kami tiba di Desa Ngimbang, tidak ada yang begitu istimewa dari desa ini selain secumpuk bukit kapur berdiri kokoh membelakangi desa, juga informasi bahwa Desa Ngimbang terletak di dataran tertinggi Tuban, yeuh setinggi-tingginya masih panas juga.

Ngimbang - Bukit kapur yang waaah
Selesai ambil data, kami kembali lagi ke Kota Tuban untuk break sholat Jumat. Nah, ini nih yang diluar perhitungan saya dan Kak Herlin, ternyata yang katanya 3 desa ini lokasinya jauh tuh bener-bener jauuuh, dan hari Jumat di Indonesia adalah hari yang pendek. Selesai sholat jumat, kami langsung tancap gas ke Desa Sugihan, saking mepetnya waktu kami terpaksa menunda makan sampai ke tempat tujuan. Setelah hampir sampai, mata kami mulai mencari rumah makan. Dodolnya kenapa baru kepikiran, jarang euy orang buka usaha rumah makan di desa, selain itu ternyata kalau hari Jumat rumah makan di daerah sini banyak yang tutup. Duh itu perut udah keroncongan banget, udara di luar panasnya bukan main lagi (32 derajat celcius men!), sampai saya nggak bisa mikir. Akhirnya ketemu juga rumah makan. Saya pesan nasi rawon, baru sesuap makan saya sudah menyesal: ini adalah rawon terburuk dalam hidup saya 😞

Karena kelewat lapar yasudahlah telan-telan aja biar ndak pingsan. Lanjut ke rumah ketua komunitas pemuda muslim Desa Sugihan. Desa ini adalah sentral pasar ternak terbesar se-Jatim. Jadi nih, semua pedagang hewan ternak dari Jatim, Madura, bahkan sampai NTB bertransaksinya di Desa Sugihan. Tetapi yang menjadi paradoks penduduk Desa Sugihan tidak bisa ikut terlibat dalam proses perdagangan karena keterbatasan modal, makanya deh mereka mengajukan bantuan even though desa ini sebenarnya sudah cukup maju.  Jam setengah 4 kami baru kelar dari Desa Sugihan. Duh udah ini mah river tubing tinggal mimpi, haha.

Kami sampai di Desa Guwoterus setengah jam kemudian. Wah wajar sih dinamakan Guwoterus, selain karena di area hutannya beneran banyak goa, desa ini memang dikelilingi tebing kapur nan elok sehingga mirip seperti di dalam goa. Destinasi unggulan desa ini ya susur sungainya itu. Air sungainya sangat biru, cukup mengherankan sih di dataran rendah seperti ini masih ada air sungai yang sebiru kristal, dan airnya itu air bersih alias bisa diminum loh, bukan air kapur. Wisata river tubing ini dimotori oleh perkumpulan pemuda Desa Guwoterus. Mereka ini bukan perkumpulan pemuda biasa, melainkan pemuda dari berbagai perguruan pencak silat, bukan main... selama wawancara dalam hati saya bicara.

"Setdah, ini yang gue wawancara jawara nih?", ngeri-ngeri sedep loh..

"Jadi kami berpikir dari pada nantinya terjadi tawuran antar perguruan silat, kenapa tidak dibuatkan saja satu wadah bersama. Setelah kami sudah bersatu, baru kemudian kami berpikir untuk mengembangkan desa dengan mengembangkan wisata river tubing, ada juga off road, ternak burung dara, kerajinan bambu, radio komunitas, jadinya komunitas ini bukan hanya sekedar mencegah terjadinya tawuran tetapi juga melakukan hal-hal produktif untuk desa kami", kurang lebih begitu penjelasan dari ketua komunitas pemuda Desa Guwoterus yang kalau saya lihat dari otot tangannya sih nih orang pasti sudah sabuk hitam, hahaha..

Sambil terkagum-kagum dengan solidaritas para pemuda ini, saya dan Kak Herlin menahan mupeng selama wawancara, gimana nggak..sudah jauh-jauh sampai ke sini tapi tidak bisa river tubing, hiks.. di desa terakhir ini saya berkesimpulan bahwa Desa Guwoterus memang jawaranya wisata alam Kabupaten Tuban. Yups, kalau kalian ke Tuban rugi deh kalau nggak berkunjung ke Desa Guwoterus. Cuma yah itu.. Tidak ada kendaraan umum menuju Guwoterus (makin nyesek). Sebelum pulang, kami mampir ke sentra oleh-oleh Desa Guwoterus, yakni kerajinan bambu. Duuh ini kerajinan bambunya unyu-unyu deh, gak tahan untuk beli akhirnya saya bawa pulang deh dua mug bambu unyu, harganya pun terjangkau hanya 25 ribu. Udah unyu, handmade, membeli=sedekah, murah pula, idaman!

Guwoterus - Airnya tenang tapi bisa gitu yah buat river tubing, saya juga heran, haha

Guwoterus - Panjang river tubing-nya sekitar 1-3 km
Guwoterus - Plang area wisata, pas banget di pinggir jalan raya
Yap! Dengan selesainya belanja kerajinan bambu di Desa Guwoterus maka selesai pula perjalanan dinas saya dan Kak Herlin, prok..prok..prok..

Badan dan pikiran kami capek sekali, pukul 8 malam kami baru tiba lagi di hotel, Pak Eka dan Mba Herlin sudah kembali ke Jakarta sejak tadi sore. Sebelum masuk kamar, Mas Agus mengajak kami makan malam terakhir di Tuban, pukul 9 kami akan dijemput. capek sih sebenarnya, tetapi apa lagi yang lebih nikmat dari menikmati sebuah kota di waktu malam? Apalagi jalannya sama penduduk lokal yang pasti tahu tempat mana yang recommended, heuheu..

Malam Sabtu kami jalan-jalan ke Kota Tuban. Walaupun ini adalah kota kecil tetapi cukup 'hidup' sampai malam. Malam ini, Mas Agus tidak sendiri nih, ia ditemani bojonya (hahaha) dan Mba Diah staf keuangan Baznas Tuban. wokeh kami tancap gas menuju lokasi, saya lupa nama kafenya. Dari luar sudah kelihatan sih tampilan kekinian, furnitur kayu, langit-langit kafe dihiasi lampu unyu-unyu, dinding kafe penuh mural, tak lupa speker yang menyetel playlist lagu masa kini dalam dan luar negeri. Konsep kafe seperti food court, jadi ada banyak warung makan ngumpul di satu tempat, untuk menunya standar sih, ayam goreng, nasi goreng, lele goreng, semuanya digoreng heuheu..

Sabtu, 4 November 2017
Pagi-pagi, Pak Wahid dari Baznas Tuban sudah menanti saya dan Kak Herlin, untuk memastikan travel kami sudah datang  sekaligus pamitan. Setelah berpamitan, kami segera naik ke dalam travel yang akan mengantar kami ke...kemana ayooo?

Flashback sedikit ya, sejak dua hari yang lalu saya dan Kak Herlin sudah berpikir mumpung di Jatim dan perjadinnya mepet weekend, kenapa tidak sekalian extend saja. Sejumlah lokasi masuk dalam daftar kami, apakah mau ke Probolinggo, main ke Gunung Bromo, ngadem di Kota Batu, jalan-jalan cantik ke Kota Malang, nyobain ke Surabaya, balik aja langsung ke Bojonegoro, atau sekalian nyebrang ke Madura.. ah binguung kaan.

Di travel pagi ini, pada akhirnya kami ke....


Surabaya.

Bagi saya perjalanan super singkat ke Surabaya cukup menarik untuk diulas dalam chapter tersendiri, jadi sampai jumpa di posting Surabaya!

Bye-bye Tuban! Hello Surabaya!


Komentar

  1. Mantab.... kapan ke tuban lagi nie....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah ada penguasa medannya ini, hehe. Ya semoga suatu saat kami bisa ke Tuban lagi mas agus :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Tak Terlupakan ke Gunung Rinjani

Tips Meredakan Rhinitis Alergi (Pengalaman Pribadi)

Eduard Douwes Dekker, Seorang Belanda Penentang Sistem Tanam Paksa di Indonesia