Explore Sumatera: Sebuah Misi untuk Menemukan Air Terjun Ciupang

Bismillah.

Hai hai, lanjut lagi kita lur. Masih di edisi explore Sumatera, atau yang  lebih tepatnya explore Lampung. Kali ini saya mau cerita tentang air terjun yang namanya mengusik pendengaran banget: Air Terjun Ciupang, yang tidak ada kaitannya sama ikan cupang dan tak ada pula ikan cupang di Air Terjun Ciupang, yaa gitu deh..

Air Terjun Ciupang terletak di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran. Seperti explore Lampung Selatan yang sudah saya posting sebelumnya, saya pun memulai perjalanan dari ibukota Provinsi Lampung, yakni Kota Bandar Lampung. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam menggunakan sepeda motor, yap kalau mau ke air terjun ini kudu banget pakai motor, karena mobil tidak bisa masuk ke area parkiran air terjun.

Kota Balam yang lagi cerah-cerahnya
Lokasi Air Terjun Ciupang searah dengan Pantai Pahawang, tapi dari tepian pantai kita akan lanjut jalan memasuki area perbukitan yang wah banget! Kenapa? Lanjutin baca sampai habis ya, heuheu..

Minggu, 24 Desember 2017


Ini adalah hari kedua saya di Bandar Lampung. Niatnya pada hari ini saya akan bertualang entah kemana, saya ngikut saja dengan tawaran kolega. Anda then belio menyarankan ke Air Terjun Ciupang.


"Tau jalannya?"
"Gak tau, ini juga baru tau dari internet"

Okay menarique, jadi hari ini kami akan bersama-sama mencari cara supaya bisa sampai ke air terjun tersebut.

Dari Bandar Lampung, kami arahkan motor ke selatan Lampung, mengikuti kemana gmaps mengarahkan.

"Kalo arah ini aku tau, ngelewatin markas TNI yang dekat pantai", kata kolega saya. Ini cukup menenangkan, setidaknya dia sudah hafal setengah dari rute perjalanan. Di perjalanan, kami sempatkan mampir ke ind*maret untuk beli stok minum dan jajanan karena sepanjang jalan sampai ke air terjun kita akan sulit menemukan minimarket, walau sebenarnya masih ada warung-warung milik penduduk sekitar sih, hanya saya lebih senang aja ke minimarket karena banyak pilihan.

Tak hanya air terjunnya, tetapi pemandangan sepanjang jalan menuju air terjun ini sungguh indah! Kita akan merasakan asinnya udara pantai hingga bertransisi ke ketinggian perbukitan yang nampaknya adalah pangkal Bukit Barisan. And I'm not kidding tentang indahnya pemandangan ini, sampai akhir perjalanan saya merasa bahwa apa-apa yang saya lewati sepanjang jalan adalah satu paket wisata dengan Air Terjun Ciupang.

Berjalan Di Tepi Pantai~


Kami start jalan sejak pukul 7 pagi, sehingga kami tiba di area pesisir pantai ketika matahari belum berada pada garis lurus yang mendidihkan kepala, alias masih adem ayem. Seperti yang saya mention di atas, kalau mau ke Air Terjun Ciupang, kita akan melewati jalan yang searah dengan Pahawang, maka kita akan dimanjakan pemandangan pantai yang cantik. 

Di pinggir jalan aja pemandangannya kayak gini, keren bet~
Saat sudah tiba di area sekitar Pahawang, saya sengaja request untuk pelankan laju sepeda motor pada spot-spot tertentu yang dirasa ciamik demi memotret birunya pesisir pantai di selatan Lampung ini. Rupanya saya tak sendirian, sepanjang jalan banyak juga pengendara lain yang menepikan kendaraannya untuk sekedar berfoto atau bahkan main air. Seakan melengkapi keindahan titik 0 mdpl tersebut, di seberang jalan berdiri kokoh perbukitan yang kemudian akan saya ketahui apa yang ada di baliknya. Kami pacu terus motor hingga sampai ke markas TNI yang dimaksud kolega saya sebelumnya, wah asli sih ini pemandangannya juara, kalau saya jadi penghuni markas itu sih bakal betah deh. Gimana enggak, di depan pantai, di belakang bukit, hepi terus deh tiap bangun tidur, yuhuu~


Depan markas TNI nya begini
Belakangnya perbukitan gini, gimana ngga betah ya..
Setelah melewati markas TNI, kontur jalan perlahan menanjak, tinggi dan semakin tinggi hingga pantai tak nampak riaknya lagi di belakang motor yang saya tumpangi. Sejurus kemudian saya sudah berada di area rumah penduduk: welcome to Kabupaten Pesawaran! 

Cantik sekali!
Masuk ke Hutan~

Dari maps, motor kami semakin mendekati titik yang dituju. 10 menit, 20 menit, saya masih terus berada di area rumah penduduk dan sawah nan menghijau..

Ini sawah

Ini rumah penduduk
"Ga ada tanda-tanda air terjun..", pikir saya.


Sejurus kemudian maps mengarahkan kami untuk belok kiri, dari jalan aspal mulus kami beralih ke jalan dominan tanah yang sangat lebar.

"Ini bener nih?", ujar teman saya
"Kalo di maps sih iya, bener. Coba di depan nanti tanya orang"

Beberapa ratus meter kemudian kami singgah di sebuah warung kelontong, membeli air minum sekaligus bertanya dimana lokasi Air Terjun Ciupang, yap ujung-ujungnya memang harus tanya warga setempat.

"Ini sudah benar jalannya, nanti tinggal lurus terus, lalu belok kanan"

Oke sip, kami lanjutkan laju motor sesuai arahan ibu pemiliki warung. Menurut cerita si ibu, Air Terjun Ciupang masih jarang dikunjungi orang selain warga sekitar, why?? Pertama: aksesnya susah dan jauh (sepakat banget buk), kedua: tidak ada kendaraan umum, ketiga: belum dikelola oleh Dinas Pariwisata. Hmm.. padahal saya lihat di internet cerita perjalanan tentang air terjun ini sudah bertebaran lho, ternyata menurut warga justru masih sepi pengunjung yhaa.. Oke balik lagi mencari jalan menuju air terjun, mata saya fokus menyisir tiap sisi jalan sambil bolak-balik melihat maps, memastikan kami tak terlewat 'belok kanan' yang dimaksud. Tapi benar saja, sedetik kemudian kami kebablasan dari titik yang diarahkan maps, melipir lagi deh nanya warga sekitar~

"Iya benar ini jalannya mba, mba balik lagi, itu di depan ada jalan belok kiri, masuk terus ke jalan itu sampai ada mushola, baru belok kiri lagi"

Saya merasa tidak sedang salah melihat, sepanjang pengamatan saya memang tidak ada jalan belok kanan. Setelah kami putar balik, barulah saya paham, jalan yang dimaksud adalah jalan kecil setapak yang mungkin hanya bisa dilewati satu mobil kecil. Dari deretan rumah penduduk pemandangan berubah drastis jadi tempat yang sepi, seperti tak ada tanda-tanda kehadiran manusia. Namun, semakin saya mengamati semakin saya menyadari, jalanan tersebut terasa spooky sekaligus menakjubkan: kami membelah rimbunnya perkebunan kakao! 

Saya edarkan pandangan hingga mencapai titik terjauh yang dapat dijangkau mata, dibalik rapatnya kebun kakao ini terlihat kokohnya perbukitan dengan pohon yang tinggi-tinggi, amat teduh dengan kanopi pohon yang lebar-lebar, inikah deretan Bukit Barisan Sumatera? Sepertinya begitu. Seiring jalan yang menanjak naik-turun, suhu udara pun terasa semakin rendah, dingin. Baiklah, kini saya sungguh ada di sebuah dataran tinggi Sumatera bung.

Beginilah pemandangan selama satu jam berkendara menembus hutan kakao, benar-benar tidak ada rumah penduduk, lampu jalan, warung, atau apapun. Sepertinya akan berbahya jika berkendara malam melalui daerah ini. Jika mata kita jeli, ada berlapis-lapis bukit di belakangnya, tak putus-putus sepanjang perjalanan.

Nah dari belokan kebun kakao ini sudah tidak ada lagi sinyal operator yang masuk, baik t*lkomsel atau pun ind*sat (saya pakai 2 operator ini). Jadilah kami kembali mengandalkan penduduk sekitar untuk memastikan bahwa kami berada di jalan yang benar, jalan yang Allah ridhoi. Hampir satu jam kami lalui jalan perkebunan nan sepi itu hingga akhirnya menemukan mushola yang dimaksud sebagai patokan, terus di depannya terpampang jelas tulisan 'Air Terjun Ciupang', wow akhirnya kami berhasil menuntaskan misi hari ini untuk menemukan Air Terjun Ciupang, akhirnya sampai juga setelah menempuh perjalan hampir 4 jam-yang-padahal-kata-maps-cuma-2-jam-an, akhirnyaaa... fiuh..

Ini kebun kakao
Pintu masuk area air terjun ini berada di tengah-tengah rumah penduduk, maka jangan lupa salam-sapa pada warga sekitar yhaa. Parkir motor sudah tersedia, kamar mandi pun ada. Kami renggangkan badan sambil membayar retribusi yang saat itu hanya 15 ribu rupiah per orang, sudah  termasuk biaya parkir motor. 


Ini plang, di belakangnya ada mushola

Dah ada parkiran motor
Sejatinya saya datang ke mari pada hari Ahad, tetapi dapat sodara-sodara perhatikeun sendiri dari foto di atas betapa sepinya pengunjung Air Terjun Ciupang, meski di akhir pekan. Maka benarlah apa yang diceritakan si ibu, heuheu. Dari Parkiran motor kita harus trekking sekitar 15 menit, melewati rerimbunan hutan sambil mencuri dengar riuh-rendah air yang terjun bebas, air terjun semakin dekat! Hingga akhirnya sampailah kami di bawah air terjun, eits.. tapi kami belum benar-benar sampai, ini baru anaknya Air Terjun Ciupang, sementara si induk berdiri gagah di ketinggian sekitar 50 meter di atas kepala kami. Bukan mudah untuk mencapai mimpi jadi asa pasti ketinggian 50 meter tersebut, karena kita rupanya harus mendaki, yap literally m-e-n-d-a-k-i. Maka berhati-hatilah bagi para pengunjung yang salah kostum, sungguh hindarilah bahaya salah kostum~

Selamat mendaki mailov~

Air terjun bayangan
Masih di air terjun bayang-bayang mantan~
Kami harus sabar menunggu antrean naik, karena dari atas ada rombongan yang juga hendak turun. Jalur pendakian bukit ini hanya dapat dilalui satu lajur, jadi bersabarlah wahai kalian yang hendak naik dan turun. Selain itu, secara refleks setiap pengunjung yang naik dan turun seperti saling menjaga; saat ada yang naik, dari atas ada yang siaga mengawasi, begitu pun saat hendak turun, para pengunjung di bawah singgap mengulurkan tangan, yah pada paham sih rumah sakit jauh sis~

And it's finally over! Di hadapan saya berdiri kokoh batu granit raksasa yang dialiri ribuan kubik air setiap detiknya. Lelumutan yang menyelimuti batu granit menambah kesan spooky, alami, garang, dan kokohnya air terjun ini, ditambah lagi suara gemuruh yang mengingatkan saya pada bisingnya mesin generator, haha. Saya jadi berkhayal ke ribuan tahun yang lalu, mungkinkah ada petapa di air terjun ini? Ataukah ada pemuda berlatih silat seperti di film-film laga kolosal? Atau jangan-jangan jadi tempat pelarian penduduk pribumi di era kolonial Belanda? Jauh amat kan khayalan saya, haha. 

MasyaAllah, can you point me? 
Batunya itu lhoo.. Kayak ukiran

Beda gear, beda hasil gambar~
Selama di air terjun, saya hanya duduk dan foto-foto saja, saya ndak berani berenang karena pada dasarnya saya tidak bisa berenang :)
Tapi bagi yang mau berenang harus hati-hati sekali, arusnya sangat kuat dan bebatuannya licin, salah-salah bisa terpeleset ke dasar air terjun bayang-bayang mantan.. Mayan kan kalau jatuh dari ketinggian sekitar 10-20 meter, bisa patah tulang nanti (ingat sodara: rumah sakit jauh). Setelah puas duduk, foto-foto, makan-makan, merenungi nasib maka turunlah saya ke bawah, kembali ke parkiran motor. Celana saya basah dan kotor sana-sini oleh tanah liat, sampai dikira penduduk kalau saya terpeleset, padahal mah ngga sih, hanya terlalu mendalami peran aja, haha. 

Saya tutup perjalan ini dengan numpang tidur di mushola dan makan es krim mochi aic* yang ternyata enak banget. Sebelum magrib saya sudah kembali ke Kota Bandar Lampung dengan hati yang gembira. Terima kasih Lampung! Saya tidak sangka dapat melihat sisi teramai hingga tersunyi dari provinsi yang selama ini hanya jadi perlintasan saat mudik.

Informasi Tambahan Jika Ingin Berkunjung Kemari:
1. Harus naik motor. Kalau naik mobil hanya bisa sampai jalan sebelum masuk kebun kakao, selanjutnya silakan lanjut jalan kaki atau terbang~
2. Kalau dari Bandar Lampung, berangkatlah pagi-pagi sekali, kalau bisa jam 5 sudah start jalan biar bisa lama-lama di air terjun. Patokan awalnya pokoknya jalan aja ke arah Pahawang.
3. Pastikan kendaraan full tank.
4. Tidak seperti Pantai Tapak kera, di sekitar air terjun ini masih ada warung dan rumah makan, jadi urusan makan aman.
5. Jangan salah konstum dan alas kaki, karena bakal sedikit mendaki (siap-siap baju akan kotor)
6. Sinyal operator hanya ada sampai sebelum kebun kakao.
7. Takut tersasar? Rajin-rajinlah bertanya pada penduduk karena tidak ada plang jalan menuju Air Terjun Ciupang.
8. Alamat lengkap lokasi air terjunnya: Dusun Purwajaya, Desa Sumberjaya, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung
9. Pastikan niat kalian adalah menikmati keindahan alam, bukan merusak keindahan alam.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Tak Terlupakan ke Gunung Rinjani

Tips Meredakan Rhinitis Alergi (Pengalaman Pribadi)

Eduard Douwes Dekker, Seorang Belanda Penentang Sistem Tanam Paksa di Indonesia