Explore Sumatera: Serunya Main ke Pantai Tapak Kera, Lampung Selatan

Bismillah.

Long time no posting! Sejatinya postingan ini sudah nebeng di blog sejak awal Januari 2018, tetapi karena jadwal kerja yang lagi super padat akhirnya baru bisa di-posting sekarang. Kali ini saya mau sharing cerita halan-halan akhir tahun 2017 lalu (yang akhirnya) ngebolang ke Sumatera, yah nyicil-nyicil dikit deh soalnya saya emang masih kurang banget explore Sumatera.

Trip kali ini saya mulai dari ibu kota Provinsi Lampung, yakni Kota Bandar Lampung. Semula saya benar-benar gak punya ide dan gak tau medan di Lampung itu seperti apa, ujung-ujungnya saya juga mengandalkan google dan blog orang untuk cari referensi pantai apa yang kece di Lampung. Sempat bingung juga karena pilihan pantai di sini buanyak banget, dari yang di ujung utara sampai ujung selatan, hanya satu kesamaan pantai-pantai di Lampung: sama-sama jauh, hehe.

Pemandangan yang akan menyambut kita saat memasuki Pantai Tapak Kera

Then, saya putuskan untuk ke Pantai Tapak Kera, why? Ya pingin aja suka-suka saya lah (jan close tab ya, becanda doang, hehe). Lokasi Pantai ini di Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Butuh waktu sekitar 3 jam kalau kita jalannya naik motor dari Kota Bandar Lampung, ga tau deh kalau jalan kaki #krik. Sebenarnya daerah Kalianda ini pasti kita lewati kalau kita menggunakan jalur darat dari arah Jekardah, karena posisi Kalianda membentang di antara Bekaheuni dan Kota Lampung

Senin, 25 Desember 2017

Saya sempat pesimis dengan perjalanan ke Sumatera kali ini karena kondisi cuaca yang serba tak menentu di penghujung 2017 kala itu. Tapi, dengan berbekal semangat dan doa ibu alhamdulillah Selasa pagi langit cerah. Dengan diantar kenalan saya pun berangkat menuju Pantai Tapak Kera tepat pukul 10 pagi. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan motor dan mengandalkan gmaps. Alhamdulillah-nya lagi nih pantai sudah ke-detect gmaps dengan detail, sepanjang jalan pun sinyal operator lancar jaya (saya pake indos*t) jadi tenang-tenang bae sepanjang perjalanan. Saat kami sudah sampai di jalur lintas Sumatera di Kalianda, kami sempat kebablasan cukup jauh, why? Nah ini nih, namanya mau ke pantai kan ya, pas di jalan kami sempat silep dari gmaps, mengandalkan indra penglihatan aja sambil nyari-nyari dimana pantai.

"Aku belum pernah liat pantai di sekitar jalur ini sih"

Kata kenalan saya, ya paham sih saya juga bisa melihat sepanjang jarak pandang ndak ada kelihatan laut. Sadar sudah khilaf saya pun cek gmaps lagi dan berserah diri pada petunjuk di maps. Dan benar saja, pas kami putar balik, maps mengarahkan kami untuk masuk ke jalan yang ndak begitu besar, mirip jalan perumahan, di sekitaran jalan itu cuma ada padang ilalang dan satu baliho besar tulisan 'Krakatoa Resort', wis dah ikutin aja dulu.

Sekitar 300 meter setelah masuk dari jalan kecil, kami melihat laut di sepanjang pinggir jalan, yaampun suer deh gak nyangka kalau ternyata dari tadi kami sedekat itu sama pantai. Banyak deretan pantai yang telah dikelola sepanjang jalur ini, tapi belum juga menghantarkan kami ke pantai tujuan. Selain pantai, kami juga melewati area hutan bakau gitu deh, baru kemudian mulai masuk wilayah rumah penduduk (sebelumnya hanya pantai dan deretan resort). 

Saat di jalan bakal ketemu banyak taman hutan mangrove

Seiring masuk desa, sinyal handphone mulai timbul-tenggelam, jadilah kami berhenti sejenak dan tanya-tanya penduduk.

"Patokannya di samping Masjid Al-Amin", kata si adek penjaga warung.


Kalo udah nemu jalan kayak gini, udah bener itu jalan ke Pantai Tapak Kera
Kami lanjut jalan sampai menemukan masjid yang dimaksud, alhamdulillah daerah sini cukup ramai jadi ndak terlalu takut, hehe. Sampai di masjid, plang menuju Pantai tapak Kera sudah terpampang sangat jelas, jadi setelah lelah mencari kesana-kemari kami ngaso dan sholat dulu sekalian beli mamam siang karena di area pantai ini tidak ada orang yang berjualan.

Ini nih patokannya, Masjid Al-Amin, di samping jelas banget ada plang "Jalan Tapak Kera" 
Kelar memulihkan stamina, kami lanjut beberapa ratus meter menuju parkiran motor Pantai Tapak Kera. Dari parkiran kita harus jalan kaki lagi sekitar 300 meter, jalan tanah setapaknya sudah dibuka jadi tidak perlu takut nyasar. Dan akhirnya pukul 13.30 kami sampai juga di Pantai Tapak Kera, yuhuuu..

Pas trekking dari parkiran ke pantai nemu tanaman kayak gini dong

Ini apa ya?
Sejatinya, saya sudah siapkan mental, tidak akan berharap muluk-muluk membayangkan private beach karena saya datang pas tanggal merah (hari natal), tetapi ketika sampai ternyata pantai ini tidak seramai yang saya kira, apalagi untuk ukuran long weekend ini sih tidak ramai. Setelah bayar retribusi, kami lanjut cari spot asik buat makan siang, makan siang di bawah pohon di pinggir pantai... ckckck.. suasana yang tepat untuk bikin temen-temen mupeng, haha..

Spot makan siang yang kece abis, Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya
Area Batu Karang Hits dilihat dari spot makan siang saya

Setelah makan. saya dan kolega berpencar, saya mau berlarian kesana-kemari dan tertawa, dia mau mencari ketenangan di alam mimpi (tidur siang gitu maksudnya).

Nah ini spot utama Pantai Tapak Kera, mari kita sebut Batu Karang Hits, ini pas lagi air pasang, kalau pas surut kita bisa jalan ke bawahnya
Dari area landai di pantai alias spot makan siang, saya melipir ke sebelah kanan dimana terletak batu karang yang jadi trademark pantai ini. Teman saya juga ikut kesana dan menemukan sudut karang yang ntaps untuk bobo ganteng. Well, petualangan dalam loneliness pun dimulai #halah.

Dari tebing karang yang hits ini, saya lanjut jalan terus ke sebelah kanan which it's tidak ada pengunjung hari itu yang jalan sampai ke sebelah sana. Sebenernya saya deg-degan kalau ada ular laut atau jin pantai yang menghadang saya, selain itu batu karangnya pun tajam-tajam, jadi setiap langkah saya pertimbangkan dengan presisi: jangan sampai kepeleset atau terinjak hewan yang tidak-tidak, Puskesmas jauh. Kemudian langkah saya terhalang oleh batu yang lumayan tinggi, sekitar 4 meter, untungnya di samping batu itu ada pohon yang lumayan besar dan batangnya berkelok ke bawah sehingga bisa dijadikan pijakan. Wis bismillah saya panjat deh. 

Treknya bebatuan licin kayak gini, btw ini bukan goa ya, tingginya cuma 1 meter, saya fotonya sambil kayang jongkok

Di balik batu itu, ternyata masih terhampar deretan karang yang semakin liar dan sulit diterobos, dududuh.. Akhirnya langkah saya mandek di Batu Besar (sebut saja begitu). But you know what? Hingga titik ini saya sudah berjalan cukup jauh dari keramaian Batu Karang Hits, wuaaah.. saya keluarkan peralatan perang: handphone dan earphone. Dalam sekejap saya sudah tenggelam dalam iringan playlist lagu-lagu kesukaan ditambah instrumentasi alam lewat suara ombak yang pecah #cihuyy.

Kalau kita melipir terus ke kanan akan dapat view kayak gini

Tidak kurang dari satu jam saya sibuk sendiri di atas Batu Besar, duuh ademnya suasana sore itu susah untuk dideskripsikan selain kalau kalian merasakannya sendiri: kesendirian, laut, langit yang cerah, matahari yang mulai turun ke peraduan, dan tentu saja musik, dududuh.. Kembali ke alam sadar, saya langsung cus ke Batu Karang Hits, waktu menunjukkan pukul 17.10, time to say good bye~

Ini dia tempat saya nongkrong sendirian sambil merenungi isi dompet yang terkuras karena halan2 :')

Dengerin lagu ini pas sendirian di pantai, yuhuu~

Manjatnya dari balik pohon itu~

Sejujurnya sampai ke parkiran mata saya masih tak bisa lepas dari Pantai Tapak Kera, ituuu sunset-nya keren paraaaah... cuma ya.. duhh... gabisa pulang malam karena daerah sini rawan kejahatan huhu.. Mau tidak mau harus tetap pamit.

Sebelum pulang, kami cuci muka sebentar ke masjid Al-Amin, pas sekali warga sekitar mulai pada berdatangan bersiap-siap sholat magrib. 

"Habis dari pantai ya mba?"
"Iya pak, bagus pantainya, gak terlalu rame juga"
"Wah itu aja sudah lumayan rame, dulu awal saya masuk ke sini tahun 70-an gak ada apa-apa di sana, hutan semua"

Yap si bapak cerita sedikit tentang Pantai Tapak Kera, ternyata beliau dulunya punya gubuk di pinggir Pantai Tapak Kera, beliau tinggal dan menetap di sana sendirian, hal itu dibenarkan pula oleh temannya yang ikut nimbrung kami ngobrol.

"Ya kalau main ke pantai hati-hati saja, jangan yang macem-macem, dan jangan terlalu ke arah kanan, itu belakangnya hutan, ya toh? Liat kan gak ada apa-apa di sana?"
"Iya pak", memang sih, di arah Batu Besar itu gak ada apa-apa, beda dengan area Batu Karang Hits yang masih terpantau dari pos retribusi.
"Selain takut ada mahluk yang macem-macem, nanti takutnya ada binatang buas dari hutan, soalnya dulu di hutan itu ada macan"

Deg! Haha alig, untung saya selamat sehat sentosa gak dideketin macan biskuat pas jalan ke arah Batu Besar. Jadi pesan moralnya adalah jangan ikuti jejak saya jalan sendirian ke arah kanan Pantai Tapak Kera, minimal berdua lah biar bisa saling jaga. Gitu deh, setelah salaman kami lanjut pamit sama bapak-bapak desa tersebut. Nyalain motor, pasang masker dan helm, siap-siap tepos perjalanan 3 jam menuju Kota Bandar Lampung.

See? di belakang pantainya itu hutan thok gak ada apa-apa, hati-hati kalau ke bagian sini, hewan buas masih berkeliaran

Sesampainya di Kota Bandar Lampung, langit malam  sudah ramai oleh cahaya lampu jalan, waktu di handphone menunjukkan pukul 20.00 WIB. Lelah sekali rasanya.. tetapi mengingat lagi me time di pantai tadi lagi-lagi bikin saya sumringan sendiri, terima kasih ya Allah! terima kasih semesta!



Catatan kalau mau ke Pantai Tapak Kera:
- Luruskan niat, baek-baek di daerah orang, jaga sikap aja soalnya me-refer cerita si Bapak di masjid diminta hati-hati kalau ke pantai ini.
- Andalkan gmaps, saat sudah di Jalan Lintas Sumatera Kalianda perhatikan baik-baik titik belokan dari gmaps, terakhir saya ke sana patokannya baliho 'Krakatoa Resort'
- Dari jalan raya masuknya lumayan jauh, mungkin sekitar 5 km
- Belilah snack, minuman, dan makanan berat sebelum masuk daerah belokan Kalianda Resort, kalo mau niat banget bisa juga belinya dari Bandar Lampung biar murah dan banyak pilihan.
- Isi bahan bakar full tank.
- Ingat, patokannya Masjid Al-Amin ya.
- Kalau mau melipir ke area tempat saya ambil video di atas, sebisa mungkin jangan sendirian, rumah sakit jauh.
- Kalau tidak berniat bermalam/kemping di pantai, pulanglah sebelum hari gelap, karena dari jalan desa sampai ke jalan raya cukup rawan kejahatan (ntar liat sendiri deh jalannya kayak gimana, pasti paham kenapa bisa rawan).
- Oh iya tambahan informasi, masih dari bapak-bapak yang di masjid, pantai ini sudah pernah memakan korban meninggal dunia karena tenggelam, jadi hati-hati ya.
- Jangan ambil apapun kecuali foto, jangan tinggalkan apapun kecuali tapak kakimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendakian Tak Terlupakan ke Gunung Rinjani

Tips Meredakan Rhinitis Alergi (Pengalaman Pribadi)

Eduard Douwes Dekker, Seorang Belanda Penentang Sistem Tanam Paksa di Indonesia